Skip to toolbar

Jenis-jenis Terapi untuk Anak Penyandang Autisme

Anak penyandang autisme memiliki dunia yang berbeda dengan anak-anak kebanyakan. Anak autis mengalami kesulitan mengekspresikan dirinya menggunakan kata-kata dan cenderung bereaksi terhadap lingkungan dengan cara yang tidak biasa. Jumlah anak berkebutuhan khusus (ABK) autisme pun semakin meningkat beberapa tahun terakhir.

Untuk menyikapi hal tersebut, ada 11 jenis terapi untuk anak berkebutuhan khusus autism, antara lain.

1. Terapi bermain

Terapi bermain ini jangan dianggap sepele  karena ini membantu cara belajar anak autis. Seorang pendidik bisa membantu anak autis dengan teknik-teknik tertentu. Di antaranya, bermain dengan teman sebaya, yang juga seorang penyandang autis. Hal ini berguna untuk belajar bicara, komunikasi dan interaksi sosial.

2. Terapi ABA (applied behavioral analysis)

ABA adalah jenis terapi yang telah lama dipakai dan didesainn khusus untuk anak autis, memberi pelatihan khusus pada anak dengan memberikan hadiah dan pujian. Saat ini terapi inilah yang paling banyak dipakai di Indonesia.

3. Terapi perkembangan

Adapun contoh dari terapi perkembangan di antaranya Floortime, Son-rise dan RDI (Relationship Developmental Intervention). Terapi ini mempelajari minat anak autis, berupa kekuatan dan tingkat perkembangannya.

Selain itu, terapi ini juga mempelajari kemampuan sosial, emosional, dan intelektualnya. Perkembangan berbeda dengan terapi perilaku ABA karena terapi ini lebih mengajarkan keterampilan yang lebih spesifik.

4. Terapi perilaku

Anak autis sering kali merasa frustrasi, bahkan orang di sekitarnya tidak memahami keinginan mereka. Pada umumnya anak autis merasa sulit mengekspresikan kebutuhannya. Bahkan, banyak yang hipersensitif terhadap suara, cahaya dan sentuhan.

Tak heran bila anak autis sering mengamuk dan takut yang berlebihan. Seorang terapis perilaku, terlatih untuk mencari latar belakang dari perilaku negatif tersebut. Serta mencari solusinya dengan merekomendasikan perubahan lingkungan dan rutinitas anak tersebut. Hal ini berguna untuk memperbaiki perilakunya yang berlebihan.

5. Terapi fisik atau fisioterapi

Autisme adalah suatu gangguan perkembangan pervasif. Banyak di antara anak autis mempunyai gangguan perkembangan pada motorik kasar. Kadang-kadang tonus ototnya lembek sehingga jalannya kurang kuat, dan keseimbangan tubuhnya kurang bagus.

Fisioterapi dan terapi integrasi sensoris akan membantu untuk menguatkan otot-ototnya dan memperbaiki keseimbangan tubuhnya.

6. Terapi wicara

Hampir semua anak dengan autisme mempunyai kesulitan dalam bicara dan berbahasa. Terkadang bicaranya cukup berkembang, namun anak autis tidak bisa berkomunikasi dengan lancar dan dengan orang lain.

Dalam hal ini terapi wicara dan berbahasa akan sangat menolong anak autis.

7. Terapi Okupasi (OT)

Hampir semua anak autis mempunyai keterlambatan dalam perkembangan motorik halus. Di antaranya gerak-gerik yang kaku dan kasar, kesulitan memegang pensil, kesulitan memegang sendok, dan sulit menyuap makanan ke mulut.

Dalam hal ini, terapi okupasi sangat penting untuk melatih mempergunakan otot-otot halusnya dengan benar.

8. Terapi sosial

Kekurangan yang paling mendasar bagi anak autis adalah komunikasi dan interaksi. Rata-rata anak autis membutuhkan pertolongan dalam bentuk komunikasi dua arah dan main bersama di tempat bermain.

Seorang terapis sosial membantu memberikan fasilitas pada anak autis untuk bergaul dengan teman-temannya dan mengajari cara-caranya.

9. Terapi visual

Anak autis lebih mudah belajar dengan melihat (visual learners), hal inilah yang kemudian dipakai untuk metode belajar komunikasi melalui gambar-gambar. Di antaranya metode PECS (Picture Exchange Communication System).

Beberapa video games bisa juga dipakai untuk mengembangkan keterampilan komunikasi.

10. Terapi musik ritem

Untuk terapi ini biasanya menggunakan alat musik pukul, seperti drum, perkusi, tambur, maupun jimbe. Pada umumnya terapi musik untuk anak autis ini menggunakan musik drum. Musik drum ini sangat baik untuk terapi autis, karena energi yang dikeluarkan sangat banyak.

Melalui bermain drum, anak autis bisa belajar berkonsentrasi dengan waktu yang lama. Selain itu, manfaat dari terapi bermain drum ini adalah bisa melatih koordinasi gerak tangan dan kaki.

11. Terapi diet ketat

Khusus anak autis yang cenderung hiperaktif, disarankan untuk diet ketat. Diet ketat tersebut di antaranya tidak mengonsumsi makanan yang mengandung tepung terigu, gula tebu, cokelat, pemanis buatan, penyedap buatan, makanan instan, dan kecap.

Diet setidaknya dapat mengurangi energi anak-anak hiperaktif sehingga mempermudah konsentrasi anak. Meski demikian, tidak semua anak autis harus menjalani diet yang sama.Maka diperlukan tes yang dapat membuktikan adanya alergi pada anak autis. (Sumber: Tribunnews)

 85 views,  1 today